Sabtu, 14 November 2015
Surat Permohonan Izin Tempat
Untuk mempermudah kakak - kakak mengunduh file kami, silahkan klik link dibawah ini.
Download
Terimakasih
Surat Izin Orang Tua
Untuk mempermudah kakak - kakak mengunduh file kami, silahkan klik link dibawah ini.
Download
Terimakasih
Surat Permohonan Peminjaman Alat
Untuk mempermudah kakak - kakak mengunduh file kami, silahkan klik link dibawah ini.
Download
Terimakasih
Surat Keterangan Aktif
Untuk mempermudah kakak - kakak mengunduh file kami, silahkan klik link dibawah ini.
Download
Terimakasih
Surat Undangan Kegiatan
Untuk mempermudah kakak - kakak mengunduh file kami, silahkan klik link dibawah ini.
Download
Terimakasih
Proposal Kegiatan
Untuk mempermudah kakak - kakak mengunduh file kami, silahkan klik link dibawah ini.
Download
Terimakasih
Rabu, 22 April 2015
Menaksir Arus Sungai
Untuk
melakukan teknik kepramukaan penaksiran kecepatan arus air, salah satunya bisa
menggunakan metode sebagai berikut :
- Satu
orang berdiri di titik A dan satu orang lagi berdiri di titik B
(perhatikan gambar di atas). Jarak antara A dan B harus ditentukan terlebih
dahulu, semisal 1 meter, 5 meter, atau 10 meter tergantung kecepatan arus
air, dimana semakin cepat arus lebih baik semakin jauh.
- Orang
A (orang yang berdiri di titik A) membawa benda yang bisa terapung,
sedangkan orang B (orang yang berdiri di titik B) membawa pengukur
waktu (stopwatch atau jam).
- Orang
A menjatuhkan benda ke air. Bersamaan dengan itu Orang B menghidupkan
penghitung waktu dan mematikannya saat benda tersebut sampai di orang B.
- Lakukan
penghitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Rumus
:
Di
mana:
- v =
kecepatan; dengan satuan detik/meter; menit/meter; jam/km dll
- s =
jarak; dengan satuan meter, kilometer (km) dll
- t =
waktu; dengan satuan detik; menit; atau jam
Contoh
:
- jarak
antara A dan B (s) 10 meter
- waktu
benda terapung mengalir dari A ke B (t) 3 menit
- Maka
kecepatannya adalah :
Menaksir Berat
Terdapat beberapa metode atau teknik dalam menaksir berat Cara pertama adalah dengan mengangkatnya secara langsung. Dengan cara ini diperlukan ketelitian dan latihan secara terus menerus sehingga mampu menaksir berat sebuah benda yang dipegang atau diangkat secara langsung.
Untuk
berlatih melakukan teknik menaksir ini angkatlah dengan tangan kanan benda yang
telah diketahui beratnya, semisal batu seberat 1 kg. Lalu pada tangan sebelah
kiri angkat pula benda lain yang beratnya sama. Setelah itu gantilah salah satu
benda dengan benda lain yang berbeda beratnya. Lakukan berulang kali sehingga
kita terbiasa mengangkat dan mampu membedakan benda dengan berat-berat yang
berbeda.
Teknik
ini memang kurang efektif dan cenderung memiliki resiko kesalahan yang besar.
Namun dalam situasi terpaksa dan membutuhkan kecepatan, teknik ini bisa dicoba.
Teknik
menaksir berat yang kedua adalah dengan membandingkan berat benda dengan
menggunakan timbangan sederhana. Timbangan ini bisa kita buat sendiri dengan
menggunakan peralatan yang tersedia di sekitar kita.
Cara
melakukan penaksiran beratnya adalah sebagai berikut :
- Siapkan
benda yang telah kita ketahui beratnya, semisal minuman dalam botol, buku,
dll. Benda ini seumpama diibaratkan B1 dengan berat 1 kg
- Siapkan
benda yang akan ditaksir beratnya. Benda ini seumpama kita namai B2.
- Buatlah timbangan seperti pada gambar di bawah.
- Tentukan
jarak antara B1 dengan pusat tumpuan timbangan (dalam gambar dinamai J1).
Semisal 10 cm.
- Latakkan
benda yang ditaksir (B2) diseberang B1. Atur (maju mundurkan B2) sehingga
posisi B1 dan B2 setimbang.
- Ukurlah
jarak dari pusat tumpuan timbangan ke B2 (dalam gambar dinamai J2).
Semisal 30 cm.
Maka berat benda yang kita taksir
(B2) dapat kita ketahui dengan rumus :
Jadi berat benda yang ditaksir adalah 0,57 kg
Menaksir Ketinggian
Dalam menaksir tinggi terdapat berbagai cara dan metode seperti metode menaksir tinggi dengan menggunakan bantuan bayangan, metode segitiga siku-siku (45 derajat), dan lain sebagainya. Pada kesempatan ini kita akan mempelajari menaksir tinggi dengan menggunakan metode perbandingan segitiga. Metode ini memanfaatkan teori kesebangunan segitiga. Dengan menggunakan metode menaksir ini, hasil yang didapat akan lebih akurat serta memudahkan dalan verifikasi ulang ataupun pengecekan kembali (termasuk penilaian) karena menggunakan rumus yang sistematis.
Namun menaksir tinggi dengan
menggunakan metode perbandingan segitiga ini hanya bisa dilakukan jika kondisi
tanah di sekitar obyek yang ditaksir dalam kondisi datar. Jika kontur tanah
miring harus menggunakan metode yang lain karena hasilnya dipastikan tidak akan
akurat.
Diumpamakan sedang menaksir tinggi
sebuah pohon. Untuk mempermudah penjelasan, perhatikan gambar berikut:
Langkah-langkah yang harus dilakukan
adalah sebagai berikut:
- Ukurlah dengan menggunakan
tongkat pramuka (biasanya berukuran 160 cm) dari pangkal pohon ke sebelah
samping. Panjang ukuran terserah, menyesuaikan dengan kondisi medan. Dalam
kasus ini seumpama diukur sebanyak 5 tongkat yang berarti sejauh 800 cm
atau 8 meter (160 x 4 = 640). Tandai sebagai titik “B”.
- Di titik “B” tersebut dirikan
tongkat pramuka secara tegak lurus.
- Intailah dari seberang titik
“C” ke puncak pohon yang ditaksir tingginya (titik “D”) melalui ujung atas
tongkat (titik “E”) sehingga antara titik A, E, dan D membentuk garis
lurus.
- Agar tercipta garis lurus rubah
atau geser maju dan mundur titik pengintaian (titik A).
- Jika telah terbentuk garis
lurus antara titik A, E, dan D, ukurlah jarak antara titik “B” dan “A”.
Seumpama hasil pengukuran jarak AB adalah 190 cm.
Setelah semua langkah pengukuran dan
pengintaian tersebut di atas dilakukan sekarang saatnya melakukan penghitungan
dengan menggunakan rumus perbandingan segitiga sebagai berikut: CD = BE
X (AB + BC) : AB. Tulislah dalam selembar kertas dilengkapi dengan sketsa
penaksiran. Lebih jelasnya seperti ini:
Diketahui
|
:
|
BE
AB BC |
=
= = |
160 cm (tongkat pramuka)
190 cm 640 cm |
|
Ditanya
|
:
|
CD
|
=
|
Tinggi Pohon?
|
|
Jawab
|
:
|
CD
|
=
|
BE X (AB + BC) : AB
160 X (190 + 640) : 190 160 X 830 : 190 132.800 : 190 698,9474 cm dibulatkan menjadi 699 cm atau 6,9 meter |
Jadi tinggi pohon adalah 6,9 meter
Dari hasil penaksiran tersebut kita
dapatkan hasil kira-kira tinggi pohon adalah 699 cm atau 6,9 meter (1 meter =
100 cm, berarti 699 dibagi 100 = 6,99). Yang perlu diperhatikan agar dalam
melakukan penaksiran tinggi mendapatkan hasil yang paling akurat adalah:
- Saat melakukan pengintaian,
posisi mata harus sedekat mungkin dengan tanah. Untuk itu sentuhkan kepala
ke tanah dan pejamkan mata yang sebelah atas sehingga pengintaian
(pembidikan) menggunakan satu mata yang terdekat dengan tanah.
- Posisi tongkat (BE) saat
pembidikan harus benar-benar tegak lurus dengan tanah jangan miring.
Pada langkah-langkah di atas posisi
titik BE tidak berubah. Jika pengintaian belum menghasilkan garis “AED” yang
lurus, lokasi pengintaian (titik A) yang diubah maju atau mundur. Bagi beberapa
pramuka ada yang memilih titik A (lokasi pengintaian) sebagai titik statis
statis yang tidak berubah-rubah lokasinya sebaliknya titik “BE” (tongkat)
berubah maju mundur hingga pengintaian menghasilkan garis “AED” yang lurus.
Jika memilih langkah yang demikian pengukuran titik AB dan BC dilakukan setelah
pengintaian selesai.
Itulah langkah-langkah dan rumus
menaksir tinggi dengan menggunakan metode perbandingan segitiga. Di samping
membutuhkan ketelitian juga dibutuhkan kerja sama antar anggota regu agar
proses penaksiran berjalan lancar dan hasilnya akurat.
Sejarah Pramuka Dunia & Boden Powell
Kalau kita mempelajari
sejarah pendidikan kepramukaan kita tidak dapat lepas dari riwayat hidup
pendiri gerakan kepramukaan sedunia Lord Robert Baden Powell of Gilwell. Hal
ini disebabkan pengalaman beliaulah yang mendasari pembinaan remaja di negara
Inggris. Pembinaan remaja inilah yang kemudian tumbuh berkembang menjadi
gerakan kepramukaan.
B. Riwayat
hidup Baden Powell
Lahir tanggal 22 Pebruari 1857 dengan nama
Robert Stephenson Smyth. Ayahnya bernama powell seorang Professor Geometry di Universitas
Oxford, yang meninggal ketika Stephenson masih kecil. Pengalaman Baden Powell
yang berpengaruh pada kegiatan kepramukaan banyak sekali dan menarik
diantaranya :
- - Karena ditinggal bapak
sejak kecil, maka mendapatkan pembinaan watak ibunya.
- - Dari kakaknya mendapat
latihan keterampilan berlayar, berenang, berkemah, olah raga dan lain-lainnya.
- - Sifat Baden Powell
yang sangat cerdas, gembira, lucu, suka main musik, bersandiwara, berolah raga,
mengarang dan menggambar sehingga disukai teman-temannya.
- - Pengalaman di India
sebagai pembantu Letnan pada Resimen 13 Kavaleri yang berhasil mengikuti jejak
kuda yang hilang di puncak gunung serta keberhasilan melatih panca indera
kepada Kimball O’Hara.
- - Terkepung
bangsa Boer di kota Mafeking, Afrika Selatan selama 127 hari dan kekurangan
makan.
- - Pengalaman mengalahkan
Kerajaan Zulu di Afrika dan mengambil kalung manik kayu milik Raja Dinizulu.
- - Pengalaman ini ditulis
dalam buku “Aids To Scouting” yang merupakan petunjuk bagi Tentara muda Inggris
agar dapat melaksanakan tugas penyelidik dengan baik.
William
Smyth seorang pimpinan Boys Brigade di Inggris minta agar Baden Powell melatih
anggotanya sesuai dengan pengalaman beliau itu. Kemudian dipanggil 21 pemuda
dari Boys Brigade di berbagai wilayah Inggris, diajak berkemah dan berlatih di
pulau Browns Sea pada tanggal 25 Juli 1907 selama 8 hari.
Tahun 1910 BP pensiun dari tentara dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Pada tahun 1912 menikah dengan Ovale St. Clair Soames dan dianugerahi 3 orang anak. Beliau mendapat titel Lord dari Raja George pada tahun 1929 Baden Powell meninggal tanggal 8 Januari 1941 di Nyeri, Kenya, Afrika.
Tahun 1910 BP pensiun dari tentara dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Pada tahun 1912 menikah dengan Ovale St. Clair Soames dan dianugerahi 3 orang anak. Beliau mendapat titel Lord dari Raja George pada tahun 1929 Baden Powell meninggal tanggal 8 Januari 1941 di Nyeri, Kenya, Afrika.
C. Sejarah
Kepramukaan Sedunia
Awal
tahun 1908 Baden Powell menulis pengalamannya untuk acara latihan kepramukaan
yang dirintisnya. Kumpulan tulisannya ini dibuat buku dengan judul “Scouting
For Boys”. Buku ini cepat tersebar di Inggris dan negara-negara lain yang
kemudian berdiri organisasi kepramukaan yang semula hanya untuk laki-laki
dengan nama Boys Scout. Tahun
1912 atas bantuan adik perempuan beliau, Agnes didirikan organisasi kepramukaan
untuk wanita dengan nama Girl Guides yang kemudian diteruskan oleh istri
beliau. Tahun 1916 berdiri kelompok pramuka usia siaga dengan nama CUB (anak
serigala) dengan buku The Jungle Book karangan Rudyard Kipling sebagai pedoman
kegiatannya. Buku ini bercerita tentang Mowgli si anak rimba yang dipelihara di
hutan oleh induk serigala.
Tahun
1918 beliau membentuk Rover Scout bagi mereka yang telah berusia 17 tahun.
Tahun 1922 beliau menerbitkan buku Rovering To Success (Mengembara Menuju
Bahagia). Buku ini menggambarkan seorang pemuda yang harus mengayuh sampannya
menuju ke pantai bahagia. Tahun
1920 diselenggarakan Jambore Dunia yang pertama di Olympia Hall, London. Beliau
mengundang pramuka dari 27 Negara dan pada saat itu Baden Powell diangkat
sebagai Bapak Pandu Sedunia (Chief Scout of The World).
-
Tahun 1924 Jambore II
di Ermelunden, Copenhagen, Denmark
-
Tahun 1929 Jambore III
di Arrow Park, Birkenhead, Inggris
-
Tahun 1933 Jambore IV
di Godollo, Budapest, Hongaria
-
Tahun 1937 Jambore V
di Vogelenzang, Blomendaal, Belanda
-
Tahun 1947 Jambore VI
di Moisson, Perancis
-
Tahun 1951 Jambore VII
di Salz Kamergut, Austria
-
Tahun 1955 Jambore
VIII di sutton Park, Sutton Coldfild, Inggris
-
Tahun 1959 Jambore IX
di Makiling, Philipina
-
Tahun 1963 Jambore X
di Marathon, Yunani
-
Tahun 1967 Jambore XI
di Idaho, Amerika Serikat
-
Tahun 1971 Jambore XII
di Asagiri, Jepang
-
Tahun 1975 Jambore
XIII di Lillehammer, Norwegia
-
Tahun 1979 Jambore XIV
di Neishaboor, Iran tetapi dibatalkan
-
Tahun 1983 Jambore XV
di Kananaskis, Alberta, Kanada
-
Tahun 1987 Jambore XVI
di Cataract Scout Park, Australia
-
Tahun 1991 Jambore
XVII di Korea Selatan
-
Tahun 1995 Jambore
XVIII di Belanda
-
Tahun 1999 Jambore XIX
di Chili, Amerika Selatan
-
Tahun 2003 Jambore XX
di Thailand
Tahun 1914 beliau menulis petunjuk untuk kursus Pembina Pramuka dan baru dapat terlaksana tahun 1919. Dari sahabatnya yang bernama W.F. de Bois Maclarren, beliau mendapat sebidang tanah di Chingford yang kemudian digunakan sebagai tempat pendidikan Pembina Pramuka dengan nama Gilwell Park. Tahun 1920 dibentuk Deewan Internasional dengan 9 orang anggota dan Biro Sekretariatnya di London, Inggris dan tahun 1958 Biro Kepramukaan sedunia dipindahkan dari London ke Ottawa Kanada. Tanggal 1 Mei 1968 Biro kepramukaan Sedunia dipindahkan lagi ke Geneva, Swiss.
Sejak tahun 1920 sampai 19 Kepala Biro Kepramukaan Sedunia dipegang berturut-turut oleh Hebert Martin (Inggris). Kolonel J.S. Nilson (Inggris), Mayjen D.C. Spry (Kanada) yang pada tahun 1965 diganti oleh R.T. Lund 1 Mei 1968 diganti lagi oleh DR. Laszio Nagy sebagai Sekjen. Biro Kepramukaan sedunia Putra mempunyai 5 kantor kawasan yaitu Costa Rica, Mesir, Philipina, Swiss dan Nigeria. Sedangkan Biro kepramukaan Sedunia Putri bermarkas di London dengan 5 kantor kawasan di Eropa, Asia Pasifik, Arab, Afrika dan Amerika Latin.
Sejarah Kepanduan dan Pramuka Indonesia
1. U M U M
Pada hakikatnya Pola Pembinaan
disusun berdasarkan penghayatan sejarah perkembangan kepanduan / kepramukaan di
Indonesia. Dengan perkataan lain kondisi nasional Gerakan Pramuka dapat
ditinjau dari segi sejarah perkembangannya yang merupakan riwayat dasar
kepanduan/kepramukaan di Indonesia.
a.
Perkembangan pendidikan kepanduan/kepramukaan di Indonesia adalah sejalan dan
sesuai dengan sejarah perkembangan bangsa Indonesia, dan merupakan bagian dari
perjuangan/pembangunan bangsa Indonesia, serta ada kaitannya dengan :
1) Perintisan
kemerdekaan, tahun 1908 – 1928
2) Konsolidasi
kekuatan nasional, tahun 1928 -1945
3) Perjuangan
fisik dan pengisian kemerdekaan (pembangunan nasional) tahun 1945 sampai
sekarang
b.
Sesuai dengan strategi Gerakan Pramuka, maka usaha pendidikan
kepanduan/kepramukaan di Indonesia merupakan salah satu segi pendidikan
nasional yang penting, serta merupakan bagian dari sejarah perjuangan bangsa
Indonesia.
Karena itu, riwayat dasar
kepanduan/kepramukaan di Indonesia perlu dipelajari dan dihayati, agar :
1) Diketahui
proses pembentukan dan perkembangan Greakan Pramuka dan diketahui pula peranan
apa yang dilakukannya dalam perjuangan bangsa Indonesia.
2) Diketahui dan
diinsafi kedudukan gerakan Pramuka dalam hubungannya dengan sejarah perjuangan
bangsa Indonesia dan ketahanan nasional.
3) Dapat dipahami
kebijaksanaan dalam penyelenggaraan pendidikan kepramukaan di Indonesia.
c.
Kepanduan di Indonesia yang sekarang menjadi Gerakan Pramuka berkembang sejak
tahun 1912.
Sampai berakhirnya zaman penjajahan
Belanda di Indonesia terdapat dua kelompok organisasi kepanduan, yaitu :
1)
Organisasi-organisasi dalam kelompok yang berorientasi pada kepentingan
pemerintahan kolonial Belanda
2)
Orgnisasi-organisasi dalam kelompok yang berorientasikan pada kepentingan
perjuangan Bangsa Indonesia.
d.
Pada waktu itu kepanduan nasional di Indonesia sudah merupakan suatu wadah
pembinaan suatu wadah pembinaan generasi muda, untuk menyiapkan tenaga-tenaga
kader bangsa dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan.
Hampir semua perkumpulan kepanduan
di Indonesia pada waktu itu adalah sebagai cabang organisasi politik atau
kemasyarakatan. Gerakan kepanduan nasional tidak dapat dipisahkan dengan
perkembangan keadaan masyarakat Indonesia sendiri.
e. Kepanduan
nasional pada waktu itu sudah dipandang sebagai tempat pendidik anak-anak dan
pemuda Indonesia untuk dengan caranya sendiri (cara kepanduan) dapat
mempertinggi budi pekerti, serta menambah kepandaian dan ketrampilan yang
sangat berguna bagi pelaksanaan cita-cita bangsa Indonesia. Di dalam hal inilah
letak perbedaan prinsip antara kepanduan nasional dan kepanduan bangsa Eropa di
Indonesia.
f.
Gerakan Pramuka/Kepanduan nasional di Indonesia dari mulai berdiri dan
berkembang, dijadikan alat perjuangan pembangunan Bangsa Indonesia dari
generasi ke generasi, dan sasaran utamanya adalah investasi mental, kepandaian
dan ketrampilan generasi muda yang diatur sejak umur 7 tahun (usia Pramuka
Siaga)
g.
Istilah pandu dan kepanduan “digunakan oleh KH Agus Salim untuk menggantikan
istilah asing padvinders dan padvinderij”
2.
GERAKAN KEPANDUAN DIJAMAN PENJAJAHAN BELANDA/JEPANG
a.
Tahun 1912-1922 (fase perintisan kemerdekaan)
1) Dijaman
penjajahan Belanda pada tahun 1912 didirikan cabang N.P.O. (Nederlance
Padvinders Organisatie) oleh PJ. Smith atas anjuran perkumpulannya di negeri
Belanda.
Dalam waktu singkat berdirilah
beberapa organisasi “padvinders” bangsa Belanda di Indonesia, yang akhirnya
pada tahun 1914 dipersatukan dalam NIPV (Nederlands Indische Padvinders
Viriniging).
2) Gagasan
Baden Powel dalam bukku “Scouting for Boys” sangat menarik perhatian para
pemimpin didalam pergerakan Nasional dan dibentuklah organisasi-organisasi
kepanduan yang bertujuan membentuk manusia Indonesia yang baik, sebagai
putera/puteri Indonesia seperti yang menjadi kader pergerakan Nasional.
3) Pada
tahun 1916 didirikan “JPO” (Javaanse Padvinders Organisasi) atas inisiatif S.P.
Mangkunegara VII di Solo, sebagai Kepanduan Nasional Indonesia yang pertama
diorganisasikan secara teratur.
4) Sampai
tahun 1922 Gerakan Kepanduan Indonesia berkembang sangat subur sebagai
“onderbouw” organisasi politik atau kemasyarakatan, antara lain :
a) Budi
Utomo mendirikan Nationale Padvinderij
b) Muhammadiyah
mendirikan Hizbul Wathan
c) Juga
Sarekat Rakyat sebagai cabang PKI mempunyai kepanduan sendiri.
b.
Tahun 1922-1928 (lanjutan perintisan kemerdekaan)
1) Mulai
tahun 1922, sejak para pelajar Indonesia yang menggabung dalam perkumpulan pelajar
menaruh perhatiannya kepada kepanduan, maka bertambahlah jumlah perkumpulan
kepanduan Indonesia a.l. :
a) Jong Java
Padvinderij (J.J.P. tahun 1928 diganti nama Pandu Kebangsaan)
b) Nationale
Padvinders Organisatie (NPO)
c) Jong
Indonesich Padvinders Organisatie (J.I.P.O.)
d) National
Islamietische Padvinderij (NATIPIJ)
e)
Indonesich Nationale Padvinders Organisasi (INPO – Gabungan dari NPO dan JIPO
tahun 1928)
f)
Pandu Pemuda Sumatera (PPS)
g) Sarekat
Islam Afdeling Padvinderij (S.I.A.P)
h) Anzor
(bagian dari Nahdatul Ulama)
2) Jumlah
perkumpulan kepanduan Indonesia berkembang sangat banyak tetapi ikatan secara
organisatoris antara satu sama lainnya tidak ada.
Kalau pada fase pertama dunia
kepanduan Indonesia mengalami perlombaan berdirinya kepanduan-kepanduan yang
beraneka warna corak dan sifatnya, maka kemudian timbullah hasrat untuk
bersatu.
3) Pada
tahun 1927 soal penggabungan perkumpulan-perkumpulan
c.
Tahun 1928-1945 (konsolidasi kekuatan Nasional)
1) Sumpah
Pemuda yang dicetuskan oleh konggres pemuda tanggal 28 Oktober 1928,benar-benar
menjiwai gerakan kepanduan nasional Indonesia untuk bergerak lebih maju dalam
rangka konsolidasi kekuatan nasional. Dengan meningkatnya kesadaran kebangsaan
Indonesia, maka timbullah tekad persatuan antara organisasi-organisasi
kepanduan nasional Indonesia.
2) Atas
kebijaksanaan dan perjuangan para penganjurnya, maka sebagai langkah pertama
pada tahun 1929 didirikan semacam badan federasi “Persaudaraan (persatuan)
antara Pandu-Pandu Indonesia disingkat PAPI”.
Yang masuk menjadi anggota ialah :
JJP, INPO, NATIPIJ, PPS dan SIAP, sedangkan HW belum memberikan kepastiannya.
Sebagai pengurus pertama dipilih Mr.
Sunarjo (INPO), Dr. Moewardi (JJP), dan Ramelan (SIAP)
Badan ini bermaksud :
a) Mempererat
persaudaraan antara anggota PAPI
b) Memudahkan
kerjasama untuk mempertinggi nilai latihan kepanduan masing-masing
Pusat pimpinan PAPI berada di
Jakarta, sedangkan di daerah-daerah, di mana terdapat lebih dari satu kepanduan
anggota PAPI, dibentuk semacam PAPI daerah.
3) Kepanduan
Bangsa Indonesia berdiri
Dengan terbentuknya PAPI, maka
tercapailah fase pertama untuk menuju ke arah persatuan.
Sementara itu rencana “Panitia fusi
perkumpulan pemuda” telah disetujui oleh Jong Java dan Pemuda Indonesia, dua
perkumpulan yang terbesar di kalangan pemuda (Oktober 1928). Panitia tersebut
merencanakan untuk mendirikan perkumpulan baru dengan nama “Indonesia Muda”
yang tidak mengadakan bagian kepanduan. Putusan tersebut mempercepat proses
penggabungan pandu kabangsaan menjadi satu kepanduan, yang lepas dari ikatan
organisasi lain.
Azas kebangsaan menjadi pokok dasar
kepanduan itu dengan tidak melupakan sifat peraturan yang berlaku di kalangan
kepanduan internasional, antara lain sifat universal dengan prinsip-prinsip
dasar metodik kepanduan/kepramukaan.
Pada tanggal 13 September 1930
diresmikan berdirinya kepanduan baru ini dengan nama “Kepanduan Bangsa
Indonesia” disingkat KBI. Untuk memperlihatkan corak haluannya, para KBI memakai
setangan leher “merah-putih” dan berpanji serupa itu juga.
4)
Rintangan-rintangan yang dialami
Gerakan Kepanduan Indonesia, seperti
juga gerakan lainnya dari Bangsa Indonesia, dicurigai dan dihalangi oleh :
Pemerintah Kolonial Belanda.
Larangan-larangan yang berupa
perintah halus, maupun terang-terangan dikenakan kepada “Kepanduan Nasional”.
Pemimpinnya ada yang ditangkap, dan
pandu-pandu ditakut-takuti, banyak sekali rintangan-rintangan yang dialami pada
jaman penjajahan tetapi justru itulah maka gerakan nasional tetap terpelihara
hidupnya, sambil mencari jalan sendiri kearah cita-cita bangsa Indonesia.
5)
Perwujudan cita-cita persatuan
Berkat keteguhan dari para pemimpin,
maka segala usaha untuk mematikan atau membelokkan arah tujuan kepanduan
Indonesia tidak berhasil.
Sebaliknya perhatian masyarakat
Indonesia makin tertarik pada cara pendidikan kepanduan, ternyata dari
tumbuhnya organisasi-organisasi kepanduan nasional dari berbagai kalangan,
seperti tersebut dimuka.
Untuk melanjutkan cita-cita
persatuan yang telah dirintis oleh PAPI, maka pada tanggal 30 April 1938 oleh
KBI, SIAP, NITIPIJ dan HW diadakan komperensi bersama, yang berhasil membentuk
“Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia” (BPPKI). Sebagai langkah pertama
untuk melaksanakan tujuannya, maka BPPKI akan menyelenggarakan perkemahan umum
secara besar-besaran.
Pada tanggal 11 Februari 1941 dalam
komperensi di Solo, BPPKI antara lain menetapkan untuk mengadakan perkemahan
besar yang dinamakan “Perkemahan Kepanduan Indonesia Umum” disingkat PERKINDO
(U dalam ejaan OE) di Yogyakarta dalam bulan Juli 1941.
6) Kepanduan
Indonesia dalam masa kependudukan Jepang
Pada permulaan bulan Maret 1942 bala
tentara Jepang dengan cepat dapat menaklukan Hindia Belanda dan menguasai
seluruh daerahnya. Empat bulan kemudian oleh Pemerintah Bala Tentara Jepang
dikeluarkan larangan berdirinya segenap partai dan organisasi rakyat Indonesia.
Walaupun demikian diusahakan sekuat tenaga untuk mendirikan kembali organisasi
kepanduan.
Pada tanggal 6 Februari 1943
Pandu-pandu dari macam-macam perkumpulan yang telah dibubarkan berhasil
mengadakan PERKINDO II di Jakarta, untuk betapa besarnya guna kepanduan bagi
masyarakat. Tetapi ternyata pemerintah militer Jepang sudah mempunyai maksud
tertentu, Gerakan Kepanduan Indonesia tidak boleh dilangsungkan, dan sebagai
gantinya anak-anak dan pemuda Indonesia dimasukkan dalam gerakan “Keibodan dan
Seinendan”.
3.
KEPANDUAN DI INDONESIA SETELAH PROKLAMASI KEMERDEKAAN
a.
Tahun 1945-1950 (masa perjuangan fisik)
1) Tidak
lama setelah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, berkobarlah api revolusi di seluruh
Tanah Air Indonesia.
Seluruh rakyat, tua dan muda
bergerak serentak dan menghancurkan segala rintangan yang menghalangi atau
menghambat kemerdekaan. Pada saat-saat itu pula pandu-pandu Indonesia, puteri
dan putera yang telah tersebar dikalangan masyarakat, ikut serta berjuang
mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia. Didalam keadaan
revolusi inilah dikalangan pemimpin timbul cita-cita untuk menghidupkan kembali
organisasi kepanduan Indonesia.
Tetapi bentuk dan sifatnya harus
berlainan dengan kepanduan pada jaman penjajahan dahulu, sesuai dengan kehendak
masa dan tidak lagi terpecah belah.
Pandu-pandu Indonesia harus bersatu
dalam tekad dan langkahnya untuk memenuhi panggilan Ibu Pertiwi.
2) Pada
tanggal 28 Desember 1945 oleh kongres Kepanduan di Indonesia yang
diselenggarakan di Solo, telah diambil keputusan dengan cara bulat untuk
menjelmakan suatu organisasi Kepanduan Indonesia baru, yang sifat dan ujudnya
Kesatuan” dengan nama “Pandu Rakyat Iandonesia”. Dalam upacara pelantikan yang
dipimpin oleh Dr. Moewardi almarhum keluarlah “Janji Ikatan Sakti” yang
berbunyi :
a) Melebur segenap
perkumpulan kepanduan Indonesia dan dijadikan satu organisasi kepanduan : Pandu
Rakyat Indonesia.
b) Tidak akan
menghidupkan lagi kepanduanlama.
c) Tangagl 28
Desember diakuisebagai hari Pandu bagi seluruh Indonesia
d) Mengganti
setangan leher yang beraneka warnanya dengan warna “hitam”.
3) Setelah
berjalan setahun, maka akhir bulan Desember 1946 berlangsunglah kongres Pandu
Rakyat ke-1 di Surakarta.
Selama setahun tidak begitu banyak
soal yang dihadapi oleh Pandu Rakyat Indonesia. Tindakan pucuk pimpinan
terutama ditujukan untuk memperkuat organisasi kedalam mengingat suasana
revolusi sedang menghebat di seluruh Tanah Air Indonesia.
4) Tahun
1947 adalah tahun kelanjutan usaha Pengurus Besar dengan menghadapi banyak kesukaran,
karena Belanda mulai memperlihatkan keiinginannya akan melenyapkan kemerdekaan
dan kedaulatan Republik Indonesia.
Hal ini mencapai puncaknya setelah
Belanda terang-terangan menimbulkan perang kolonial mulai tanggal 21 Juli 1947.
5) Tahun
1948 merupakan waktu yang tersulit bagi pucuk pimpinan organisasi.
Keadaan dalam negeri Indonesia
setelah kacau sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam segala lapangan.
Dengan adanya serbuan militer Belanda didaerah-daerah Republik Indonesia sejak
tanggal 21 Juli 1947, maka hubungan dengan cabang-cabang Pandu Rakyat Indonesia
di daerah-daerah yang diduduki Belanda terputus.
6) Pada
pertengahan bulan Januari 1950 dalam Kongres Pandu Rakyat Indonesia ke II di
Yoyakarta diputuskan bahwa Pandu Rakyat Indonesia berbentuk kesatuan yang
memperhatikan dan memberi kesempatan kepada golongan-golongan khusus agama
untuk menyelenggarakan kebutuhan masing-masing.
7) Didalam
meriwayatkan Gerakan Kepanduan Indonesia tidak boleh dilupakan adanya golongan
pandu puteri yang tidak pernah terlepas sama sekali dari ikatan organisasi
kepanduan Indonesia pada umumnya. Begitu pula dalam organisasi Pandu Rakyat
Indonesia, untuk mengurus segala soal Pandu Puteri pada tanggal 22 Agustus 1949
dibentuk Kwartir Besar Pandu Puteri darurat.
b.
Tahun 1960-1961 (masa pemerintahan liberal).
1) Setelah
pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada tanggal 19 Desember 1949, maka
dalam masa pemerintahan liberal terbuka lagi kesempatan kepada siapapun untuk
membentuk organisasi-organisasi kepanduan.
Menjelang tahun 1961, gerakan
kepanduan Indonesia telah terpecah menjadi lebih dari 100 organisasi kepanduan.
Keadaan demikian dirasakan sangat melemahkan gerakan kepanduan Indonesia,
meskipun sebagian dari organisasi-organisasi itu terhimpun di dalam tiga
federasi, yaitu :
a. IPINDO (Ikatan
Pandu Indonesia untuk Putera)
b. PAPPINDO
(Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia)
c. P.K.P.I
(Perserikatan Kepanduan Puteri Indonesia)
2) Mengalami
kelemahan itu, maka ketiga federasi kepanduan tersebut melebur dirinya menjadi
satu federasi menjadi nama ERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia).
Akan tetapi, hanya kira-kira 60 saja dari 100 lebih organisasi kepanduan itu
yang ikut terhimpun di dalam federasi PERKINDO. Lagi pula, di dalam federasi
itu sebagian dari 60 organisasi PERKINDO, terutama yang menjadi “onderbouw”
dari organisasi politik atau masyarakat, tetap berhadap-hadapan berlawanan satu
sama lain, sehingga tetap dirasakan kelemahan gerakan kepanduan Indonesia.
3) Oleh
PERKINDO dibentuk suatu panitia untuk memikirkan suatu jalan keluar. Panitia
itu menyimpulkan bahwa selain lemah karenaa terpecah-pecah gerakan kepanduan
Indonesia itu lemah pula karena terpaku dalam cengkraman gaya
tradisional/konvensional dari kepanduan Inggris pembawaan dari luar.
Hal iini berakhir dan berakibat
bahwa pendidikan yang diselenggarakan oleh gerakan kepanduan Indonesia ketika
itu, belum disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan nasional Indonesia,
sehingga pada waktu itu kurang mendapat respon dari masyarakat Indonesia.
Kepanduan hanya bergerak di
kota-kota besar, dan disitupun hanya terdapat pada lingkungan orang-orang
yang sedikit banyaknya sudah berpendidikan Barat.
c.
Tahun 1961-1978 (setelah kembali ke Undang-Undang Dasar 1945)
1. Pihak komunis
mau mempergunakan kelemahan gerakan kepanduan Indonesia seperti tersebut di
atas, sebagai alasn untuk memaksa gerakan kepanduan Indonesia menjadi gerakan
pionir muda sebagaimana terdapat di negara-negara komunis.
2. Akan tetapi kekuatan-kekuatan
Pancasila di dalam PERKINDO menentangnya, dan dengan bantuan Perdana Menteri
Ir. H. Djuanda perjuangan mereka menghasilkan KEPPRES RI. No. 238 tahun 1961
yang pada tanggal 20 Mei 1961 ditandatangani oleh Ir. Djuanda sebagai Pejabat
Republik Indonesia.
3. Dengan
dikeluarkannya KEPPRES RI. No. 238 itu, maka PERKINDO berhasil untuk
mempersatukan gerakan kepanduan Indonesia seluruhnya, dengan nama : GERAKAN
PENDIDIKAN KEPANDUAN PRAJA MUDA KARANA (PRAMUKA). Semua organisasi kepanduan
Indonesia, kecuali yang diselenggarakan oleh pihak komunis, melebur diri ke
dalam Gerakan Pramuka.
Di dalam KEPPRES tersebut ditetapkan
bahwa di seluruh wilayah Republik Indonesia perkumpulan Gerakan Pramuka adalah
satu-satunya badan yang diperbolehkan menyelenggarakan pendidikan kepanduan.
4. Setelah terjadi
pengkhianatan G.30.S/PKI pada tanggal 1 Oktober 1965, maka dalam waktu yang
relatif sangat singkat, terjadi suatu “Perubahan Sosial” dengan timbulnya “Orde
Baru” yang menuntut pemurnian Undang-Undang Dasar 1945. Demikian pula Gerakan
Pramuka tidak ketinggalan untuk menyesuaikan diri dan menyerasikan pelaksanaan
tugas pokoknya dengan perkembangan masyarkat Indonesia pada waktu itu.
5. Pada tanggal 12
sampai dengan 20 Oktober 1970 telah diadakan Musyawarah Majelis Permusyawaratan
Pramuka I di Pandaan, Jawa Timur. Salah satu hasil musyawarh tersebut adalah
mengganti Anggaran Dasar Gerakan Pramuka sebagaimana terlampir pada KEPPRES No.
238 tahun 1961 dengan Anggaran Dasar baru yang lebih disesuaikan dna diserasikan
dengan perkembangan masyarakat Orde Baru.
Kemudian pada tanggal 22 Maret 1971
Anggaran Dasar baru tersebut telah disahkan dengan KEPPRES No. 12 tahun 1971.
6. Ketentuan
di dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka tentang prinsip-prinsip dasar metodik pendidikan
kepramukaan yang pelaksanaannya diserasikan dengan keadaan, kepentingan dan
perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia, membawa kemudian banyak
perubahan. Prinsip-prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang universal
tetap dipegang, tetapi cara pelaksanaannya dan pengarahannya diubah, yaitu
dengan keadaan dan kebutuhan nasional di tiap-tiap daerah di Indonesia.
7. Gerakan Pramuka
itu ternyata lebih kuat organisasinya, dan ternyata memperoleh tanggapan
positif dari masayrakat luas, sehingga dalam waktu singkat organisasinya tealh
berkembang dari kota-kota sampai di desa-desa.
Kemajuan pesat itu adalah juga
berkat adanya sistim “Majelis Pembimbing” yang dijalankan oleh Gerakan Pramuka
pada tiap tingkat, dari tingkat Nasional sampai tingkat Gugus Depan.
8. Mengingat bahwa
kira-kira 80% dari seluruh penduduk Indonesia tinggal di desa, dan kira-kira
75% adalah keluarga-keluarga petani, maka KWARNAS Gerakan Pramuka pada tahun
organisasi yang pertama (tahun 1961) sudah menganjurkan agar para Pramuka
menyelenggarakan kegiatan-kegiatan di bidang pembangunan pertanian dan di
bidang pembangunan masyarakat desa.
Maka kemudian pada tahun 1966
Menteri Pertanian dan Ketua KWARNAS Gerakan Pramuka mengeluarkan suatu Insruksi
Bersama yaitu pembentukan satuan-satuan Karya Pramuka Tarunabumi.
9. Kegiatan Satuan
Karya Tarunabumi ternyata membawa pembaharuan, bahkan membawa semangat untuk
mengusahakan penemuan-penemuan baru (inovation) pada pemuda-pemuda desa, yang
selanjutnya mempengatuhi seluruh masyarakat desa.
Perluasan Gerakan Pramuka sampai di
desa-desa, kegiatan-kegiatan di bidang pembangunan pertanian dan pembangunan
desa, serta pembentukan dan penyelenggaraan satuan-satuan karya Pramuka
Tarunabumi telah mengalami kemajuan pesat, sehingga menarik perhatian
badan-badan internasional seperti FAO, UNICEF, ILO, dan World Scout Bureau,
serta mendapat pujian dari masyarakat Indonesia sendiri.
10. Dalam perkembangan
masyarakat Indonesia dewasa ini dihadapi berbagai masalah sosial, seperti
kepadatan penduduk, urbanisasi, pengangguran dan sebagainya.
Berhubung dengan itu, maka pada
tahun 1970 Menteri TRANSKOP dan Ketua KWARNAS Gerakan Pramuka mengeluarkan
suatu Instruksi Bersama, tentang partisipasi Gerakan Pramuka dalam
penyelenggaraan Transmigrasi dan pembinaan Gerakan Koperasi.
Dan
sehubungan dengan masalah “Scholl Drops Out” (anak-anak putus sekolah),
maka Gerakan Pramuka juga mengarahkan perhatiannya kepada pendidikan kejuruan,
untuk memberi bekal hidup kepada anak-anak dan pemuda, terutama kepada “School
Drops Out” itu .
Di samping satuan-satuan Karya
Tarunabumi juga ada satuan-satuan Karya Pramuka Dirgantara, Pramuka Bahari, dan
Pramuka Bhayangkara, yang menyelenggarakan kegiatan-kegiatan di bidangnya
masing-masing.
11. Pada bulan Nopember 1974
telah diselenggarakan Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka di Manado, Sulut,
yang menghasilkan Keputusan sebagai berikut :
a) KEPMUNAS
Gerakan Pramuka No. 01/MUNAS/74, tentang : Laporan dan pertanggungjawaban
KWARNAS Gerakan Pramuka masa bakti 1970-1974.
b) KEPMUNAS
Gerakan Pramuka No. 02/MUNAS/74 tentang : Pelimpahan wewenang kepada KWARNAS
Gerakan Pramuka untuk meninjau kembali ART Gerakan Pramuka.
c) KEPUMUNAS
Gerakan Pramuka No. 03/MUNAS/74 tentang : Pengelolaan Keuangan KWARNAS dan
pembentukan Panitia Verifikasi laporan keuangan KWARNAS Gerakan Pramuka.
d) KEPMUNAS
Gerakan Pramuka No. 04/MUNAS/74 tentang : Pedoman Dasar Rencana Kerja Gerakan
Pramuka Tahun 1974-1978.
e) KEPMUNAS
Gerakan Pramuka No. 05/MUNAS/74 tentang : Penunjukan formatur KWARNAS Gerakan
Pramuka masa bakti 1974-1978.
12.
Masa bakti KWARNAS Gerakan Pramuka masa bakti 1974-1978 merupakan fase
konsolidasi organisasi Gerakan Pramuka dan peningkatan pendidikan dan kegiatan
kepramukaan antara lain dengan jalan menimbulkan “image” yang baik
terhadap anak didik sendiri, bahwa Gerakan Pramuka tidak saja akan membawa
dirinya ke masa depan yang cemerlang, tetapi juga menumbuhkan rasa
tanggungjawab dan dapat berbuat banyak bagi pembangunan bangsa dan negara,
serta dalam rangka peningkatan Ketahanan Nasional.
d.
Tahun 1978 dan selanjutnya
1. Jika masa
bakti Kwarnas tahun 1974-1978 merupakan fase konsolidasi bagi Gerakan Pramuka,
maka setelah MUNAS 1978 yang diselenggarakan pada akhir Oktober 1978 di
Bukittinggi, Sumatera Barat, diharapkan beralih kepada fase stabilisasi baik
dalam pengelolaan organisasi dan administrasi Gerakan Pramuka maupun dalam
pengelolaan pendidikan dan kegiatan kepramukaan.
2. Untuk minimal 2
kali masa bakti KWARNAS Gerakan Pramuka diharapkan adanya peningkatan usaha ke
dalam dengan mempersiapkan generasi muda melalui Gerakan Pramuka, agar :
a) Mempunyai
tanggungjawab terhadap bangsa dan negara.
b) Mempertebal
kepercayaan kepada diri sendiri untuk berdikari dan berwiraswasta.
c) Ikut secara
aktif dalam memberantas kebodohan dan kemelaratan.
3. Juga diharapkan
dapat membina kontinuitas pemupukan kepemimpinan sejak umur 7 tahun (usia
pramuka siaga).
Sumber : http://www.pramukanet.org







